Rabu, 18 Juli 2007

Kira-kira di Mana Al-Qur’an dalam Keseharian Kita?

Apakah ia di atas rak bukumu? Terpajang rapi?

Atau di lemari kacamu, terkunci?

Atau menyela di antara tumpukan bukumu, yang berdebu?

Atau menyamping di antara diktat-diktat tebalmu?

Atau di bawah tumpukan karyamu? Yang kau puja-puja lebih darinya?

Atau di tasmu untuk dibawa saja?

Atau kamu anggap ia jimat penolak petaka?

Atau di atas mejamu, sebagai penghias semata?

Atau kamu hidupkan ia di hatimu dengan pemahaman?

Di lisanmu dengan bacaan?

Di gerakmu dengan amalan?

Lalu kau ajarkan?

…Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (Q.S. Al-Muzammil: 4)

Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (Q.S. Al-An’am: 155)

Selasa, 17 Juli 2007

Ketika


Ketika hati terasa sempit, terasa kering.
Ketika kata tanpa makna, wajah tanpa roman, ramah yang kerontang.
Ketika bibir tak dapat tersenyum, ketika hati merana, ketika fikir menjadi sendiri..
Ketika niat membengkok, ketika sisi-sisi hati menjadi bersisik...
Ketika canda tak lagi berderai, ketika tawa telah membeku atau justru terlalu melengking...
Hm, ada yang hilang. Kebertautan pada Allah yang berkurang, ikatan jiwa. Ada rantai yang lepas, ada safety-belt yang tak digunakan.
Ketika Qur'an diacuhkan. Bukan tak dibaca, tapi tak dimaknakan.
Ketika Allah cuma jadi sekedar nama. Bukan tak disebut, namun tak terasa Dzat-Nya.
Ketika Nabi Muhammad cuma seorang figur. Bukan tak dikenang, cuma tak dijadikan contoh teladan dalam keseharian.
Ketika rantai-rantai hati terputus, ketika jiwa terlepas dari kemudi...
Ketika religius dianggap terpisah dari karakter kehidupan.
Dalam begitu banyak ketika... pantulan jiwa.
Saat seperti inilah, kata 'kembali' menjadi juru kunci.
back to Allah